Jumat, 27 Januari 2017

kisah ibuku

aku mau cerita nih tentang kisah ibuku. menurutku ibu itu adalah segalanya bagiku, ibu itu bagaikan sesosok pahlawan yang berjiwa pemberani dan pantang menyerah. bagiku ibuku itu seperti layaknya bidadari, memang sih mungkin dia itu tidak cantik, tidak berkulit putih bersih, dan mulus jauh dari itu semua akan tetapi aku sangat bangga kepadanya, aku sangat menyayangi ibuku lebih dari apapun. ya... memang benar semua mahluk ciptaan allah hanya bersifat sementara dan semua itu adalah sebuah titipan, akan tetapi aku selalu berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan serta tak lupa pula mendoakan agar selalu panjang umur. ibuku, bukan seorang wanita karir, ibuku itu sangat pekerja keras demi mencari penghasilan sehari-hari untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga dan membiayai anaknya (aku) untuk melanjutkan pendidikan di sebuah universitas swasta. biayanya menurutku lumayan mahal, jadi lumayan berat bagi keluargaku, akan tetapi dia selalu berusaha agar apapun itu kendalanya bisa dipecahkan dan diselesaikan. sehari-hari kerja ibuku adalah pergi keladang karet. kadang-kadang dia tidak sendiri, kadang-kadang dia bersama ayahku, akan tetapi tidak sering, sebab ayahku sudah lumayan tua dan dia terkena hipertensi jadi mudah sakit kepala, fisiknya juga sudah melemah. meskipun ibuku setiap hari keladang, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang ibu, mengerjakan pekerjaan rumah tangganya itu juga tidak ditinggalkan dan tak lupa pula ibuku selalu menjalankan sholat lima waktunya bahkan kadang-kadang juga mengaji. ibuku biasanya bangun pagi-pagi sekali. kira-kira pkul 05:00 pagi sudah bangun,  lalu dia sholat dan setelah itu memasak untuk sarapan sebelum pergi keladang dan memasaknya tidak bisa cepat karena kami masih menggunakan kayu bakar, ada sih tabung gas dari pemerintah tapi isi ulangnya mahal huhu..., sebelum pergi keladang harus sarapan dulu karena apabila tidak makan terlebih dahulu biasanya badannya tidak kuat dan belum sampai jam 12:00 badannya sudah gemetaran, gitu sih katanya.

setelah sarapan ibuku biasanya pergi berangkat keladang kira-kira pukul 07:00 pagi dan biasanya pulang pukul 04:00 sore gitu, dengan mengendarai sepeda ontelnya yang selalu setia menemaninya setiap hari. ladang ibuku tidak begitu jauh, tapi lumayan juga sih hehe...... setelah sampai ladang dia mulai menderes pohon karet dari 1 pohon ke pohon yang lain, jarak antar pohonnya kira-kira 2 meter dan lahan seluas 2 hektar kebayang dong jalan kakinya dari pohon ke pohon lainnya seberapa jauh jika saling ditautkan. ga sampai situ aja tantangannya, ladangnya juga semak rerumputan, panas, dan tumbuh-tumbuhan meninggi, banyak nyamuk dan ditambah lagi dataran tanahnya rendah jadi kalau hujan, kadang air lama surutnya dan juga apabila musim banjir airnya tinggi, sehingga tanahnya becek jadi seperti lumpur. kalau sudah terlanjur kakinya terinjak dibagian tanah yang lumpar itu berasa banget susahnya, karena kalau bergerak otomatis kakinya jadi tambah dalam masuk ke lumpurnya. jadi harus pandai-pandai narik kakinya.

kemaren ibuku sempat sedih setiap hari bengong, gimana enggak? mencarinya susah dan mati-matian harga karet turun drastis guys... satu kg nya mencapai RP.5.000 dan biasanya pendapatan ibuku hanya Rp.300.000 perminggu. bayangkan saja guys, 1 kg karet belum bisa untuk beli beras 1 kg sementara kemaren harga beras 1 kg nya sekitar 8-10 ribu rupiah. belum lagi harga sayur-mayurnya guys, kalau lauk pauk sih ibuku sanggupnya hanya membeli tahu atau tempe atau telur itu udah bersyukur banget, dan biasanya itu hanya seminggu sekali dijumpai dalam hidangan keluargaku. tapi tetep semangat dan masih bersyukur, masih dimurahkan rezekinya oleh allah swt. dan alhamdulillah akhir-akhir ini ibuku udah mulai tersenyum lagi guys, ditahun 2017 ini harga karet lumayan naik awal bulan januari kemaren harganya Rp.9.000 pendapatan ibuku pun naik hingga 700-900 perminggunya jadi lumayan bisa bernapas hehe... yah walaupun serba serbi hemat dan mencukup-cukupkan tapi sekali lagi tetap bersyukur dibanding yang dulu-dulu dan itupun kalau hari tidak hujan, karena kalau hujan getahnya bisa ilang huhu.... . petani karet itu susah guys, beneran, seperti kami-kami yang terjun sendiri kecuali mereka yang sebagai pengusaha dan semuanya dikerjakan oleh karyawannya. ini cerita kisah nyata ya guys... meskipun aku seorang mahasiswi tapi ketika hari libur, aku tetap bantu ibuku, pekerjaan apapun itu. dan cerita yang selalu terbayang di otakku adalah, ketika membawa ember cat yg besar itu penuh dengan karet kakiku  tersandung akar karet dan getahnya tumpah mengenai hampir seluruh badan soalnya bawanya digendong dipunggung guys,, dan satu lagi ketika terjebak kedua kaki masuk kedalam lumpur kadang aku tertawa sendiri bingung bagaimana cara menariknya karna apabila bergerak kaki semakin dalam masuk kedalam... jadi tangan harus bisa menggapai rerumputan disekitar yang bisa dijadikan sebagai bahan penarik badan kita. tapi kali ini aku lagi sedih guys, karena udah menjelang masuk kuliah jadi aku tidak bisa membantu orang tuaku bekerja dan harus pergi kekota untuk menuntut ilmu. ibuku ingin anaknya selangkah lebih maju, dan tidak menderita seperti ibunya jadi bagaimanapun caranya ibuku tetap berusaha agar anaknya bisa sekolah yang tinggi. dan dalam kejauhan seperti ini, aku hanya bisa membantu doa untuknya. aku sangat bangga pada ibuku dan aku sangat sayang padanya jiwanya yang pekerja keras, dan tidak mengeluh serta bersyukur. terkadang, banyak para ibu-ibu yang hanya dirumah memasak, menyuci dan lain sebagainya tidak pergi kekebun atau tidak memiliki pekerjaan khusus sudah banyak mengeluh ini itu dan lain sebagainya... bersyukurlah.. karna mngkin saja diluar sana masih banyak yang lebih keras hidupnya dibanding kita. aku selalu berharap kepada pemerintah agar harga karet jangan diturunkan lagi, mencarinya benar-benar susah pak pemimpin negeri..... semoga saja harganya bisa tetap slalu stabil. aminnnnnnnnn....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar